Relokasi Investasi dari Tiongkok ke Indonesia


Pandemi COVID-19 tidak menjadi penghalang bagi para investor untuk tetap melakukan investasi. Mereka justru semakin terdorong untuk melakukan relokasi. Sejak tahun lalu, banyak perusahaan yang memutuskan untuk memindahkan pabrik mereka dari Tiongkok ke wilayah Asia Tenggara.

Faktor utama dilakukannya relokasi adalah besarnya bea impor yang ditetapkan oleh Amerika Serikat akibat perang dagang negara tersebut dengan Tiongkok. Perang dagang ini ternyata membawa dampak positif bagi investasi Indonesia. Tidak hanya berpindah dari Tiongkok saja, beberapa perusahaan ini juga memutuskan untuk menutup pusat produksi di negara lainnya, seperti Malaysia dan Jepang.

Tujuan relokasi investasi

Relokasi investasi ke Indonesia semakin menarik hati investor asing karena pandemi COVID-19 awalnya berpusat di Tiongkok. Pemerintah Indonesia sendiri sudah berbenah diri dari kejadian di tahun lalu, dimana 33 perusahaan asing yang hengkang dari Tiongkok lebih memilih untuk melakukan relokasi investasi di negara pesaing, seperti Vietnam dan Thailand.

Keberhasilan relokasi investasi ke Indonesia ini akan berdampak positif terhadap kondisi ekonomi negara. Tidak hanya karena semakin besar realisasi investasi yang ada, tetapi juga secara langsung membuka lapangan kerja. Negara Indonesia sendiri menjadi lokasi yang strategis bagi para investor, mengingat kedekatannya dengan pasar Asia dan Australia. Selain itu, investor asing juga menganggap Indonesia sebagai negara dengan potensi pertumbuhan pasar yang besar.

Tiga tugas khusus satgas relokasi

Indonesia masuk ke dalam daftar 10 negara investasi terbaik di tahun 2020, lengkap dengan kekayaan sumber daya alam dan potensi pasar yang besar. Untuk dapat menarik lebih banyak investor asing dan memfasilitasi relokasi investasi ke Indonesia, Presiden Joko Widodo memerintahkan BKPM untuk melayani investor dari awal proses perizinan hingga tahap konstruksi dan selanjutnya produksi.

Kepala BKPM mengungkapkan telah dibentuk tim satuan tugas (satgas) khusus untuk menangani segala urusan terkait relokasi investasi ke Indonesia. Satgas ini bekerja langsung sesuai dengan arahan Kepala BKPM. Satgas khusus relokasi ini diberikan 3 mandat utama yang bertujuan untuk menarik lebih banyak relokasi investasi secara intensif.

Ketiga mandat tersebut meliputi pendeteksian perusahaan yang akan relokasi, pengecekan fasilitas bagi investor dari negara, dan membuat keputusan ketika bernegosiasi. Satgas tersebut akan menuntun para investor asing untuk mengurus perizinan usaha, dimulai dari kementerian hingga level pemerintah daerah.

Ditilik dari negara tetangga Vietnam yang juga menjadi pesaing utama Indonesia dalam mengukuhkan relokasi investasi tersebut, Indonesia juga mulai mempertimbangkan penyusunan regulasi investasi yang lebih mudah, pemberlakuan biaya ekspor yang lebih terjangkau, dan kesiapan infrastruktur serta lahan untuk pembangunan pabrik.

Perusahaan yang direlokasi

Hingga kini, sebanyak tujuh perusahaan asing sudah dipastikan akan melakukan relokasi investasi ke Indonesia. Beberapa di antaranya berasal dari Jepang yang menjadi negara dengan total investasi terbesar ke-4 di Indonesia pada kuartal kedua 2020, yaitu sebesar USD 608,7 juta. Selanjutnya Korea Selatan pada peringkat ke-5 dengan nilai investasi sebesar USD 552,6 juta; Amerika Serikat yang menjadi negara dengan total investasi terbesar ke-8 dengan nilai investasi sebesar USD 87 juta, serta Taiwan peringkat ke-9 dengan total investasi sebesar USD 77,3 juta. Total nilai investasi dari ketujuh perusahaan tersebut mencapai USD 850 juta atau sekitar Rp 11,9 triliun dengan potensi penyerapan tenaga kerja sebanyak 30.000 orang.

Adapun tujuh perusahaan yang direlokasi ke Indonesia adalah:

  1. Alpan Lighting (PT CDS Asia), perusahaan Amerika Serikat yang bergerak di industri lampu bertenaga surya;
  2. Sagami Electric (PT Sagami Indonesia), perusahaan industri komponen elektronika dari Jepang;
  3. Denso (PT Denso Indonesia), perusahaan industri suku cadang kendaraan bermotor dari Jepang;
  4. Panasonic (PT Panasonic Manufacturing Indonesia), perusahaan industri barang elektronik dari Jepang;
  5. Meiloon (PT Meiloon Technology Indonesia), perusahaan Taiwan yang bergerak di industri produk elektronik, seperti speaker, audio dan video. PT MTI ini sudah melakukan groundbreaking di SUbang, Jawa Barat pada tanggal 21 Juli 2020;
  6. Kenda Tire (PT Kenda Rubber Indonesia), produsen ban dari Taiwan;
  7. LG Electronics (PT LG Electronics Indonesia), perusahaan industri perlengkapan elektronik dari Korea Selatan.

Terlepas dari ketujuh perusahaan yang melakukan relokasi investasi ke Indonesia, BKPM mencatat ada 17 investor potensial lain sebesar USD 37 miliar yang juga tertarik untuk memindahkan pabrik mereka ke Indonesia. BKPM juga mengungkapkan bahwa pihaknya terus membantu realisasi investasi PT Hyundai Motor Manufacturing Indonesia (HMMI) yang tetap dijalankan di tengah pandemi, mulai dari perizinan, penyediaan bahan baku, hingga lahan pabrik telah ditangani oleh pihak BKPM secara langsung.

Lee Young Tack selaku Presiden Hyundai Asia Pacific bahkan mengucapkan rasa terima kasihnya secara langsung kepada Pemerintah Indonesia dan BKPM karena dengan segala bantuan yang diberikan, HMMI masih dapat beroperasi di tengah pandemi COVID-19. Tidak lupa Lee juga meminta dukungan kepada pemerintah daerah agar dapat mendukung investasi Hyundai.

Keberhasilan BKPM dan pemerintah dalam melakukan pengawalan investasi HMMI di tengah pandemi ini menjadi bukti nyata akan kemampuan Indonesia dalam menyokong perkembangan bisnis para investor asing.